Neruda #2

Bagiku pagi selalu menyenangkan. Suara adzan yang bersahutan dari masjid-masjid. Dingin udara pagi. Semburat matahari terbit yang bisa kau lihat dari pematang sawah belakang rumahmu. Suara tangis anak kecil.
Uhh
Itu bagian yang tak kusuka.
Baiklah, hilangkan saja bagian tangis anak kecil itu. Didapur, emak sudah siap menghidangkan sarapan pagi. Aku masih ditempat tidur memejamkan mataku. Merasakan semua keributan itu tanpa ingin mencampurinya. Biarkan damai ini berlanjut lima menit saja.
Hhmm
“Bangun, ini jam 06.00! Kamu masuk apa?!”
Tiga menit.
“Hei, kamu anak perempuan. Gak boleh bangun siang!”
Dua menit.
Selimutku ditarik.
Uhh. Baiklah. Habis sudah pagi damaiku. Aku bangun dari tempat tidur sambil masih tetap memejamkan mata. Berjalan langsung ke padasan belakang rumah untuk mengambil wudhu.
Dingin. Embun berkilauan diujung dedaunan. Semburat matahari mulai terlihat ditimur. Aku cepat-cepat mengambil wudhu lalu shalat subuh. Ma’af Tuhan, aku selalu tak bisa subuh tepat waktu. Cepat-cepat kulipat mukena. Ada waktu 10 menit sebelum aku harus mandi dan bersiap-siap masuk kerja. Aku mengambil handphone dan earphone, lalu bersiap dipematang sawah belakang rumah.
Satu menit empat puluh delapan detik.
Oh, Tuhan...
Aku selalu tak sanggup berkata-kata saat melihat keajaiban-Mu. Siluet matahari yang bulat sempurna. Warna-warni luar biasa. Awan tipis diatas pegunungan. Merbabu dan merapi yang terlihat sumbing dipuncaknya.
Bagiku pagi selalu keajaiban. Pagi selalu menjanjikan kehidupan baru. Pagi adalah cerita baru. Terimakasih Tuhan atas pagi baru-Mu..

Komentar