Bagiku
pagi selalu menyenangkan. Suara adzan yang bersahutan dari masjid-masjid. Dingin
udara pagi. Semburat matahari terbit yang bisa kau lihat dari pematang sawah
belakang rumahmu. Suara tangis anak kecil.
Uhh
Itu
bagian yang tak kusuka.
Baiklah,
hilangkan saja bagian tangis anak kecil itu. Didapur, emak sudah siap
menghidangkan sarapan pagi. Aku masih ditempat tidur memejamkan mataku. Merasakan
semua keributan itu tanpa ingin mencampurinya. Biarkan damai ini berlanjut lima
menit saja.
Hhmm
“Bangun,
ini jam 06.00! Kamu masuk apa?!”
Tiga
menit.
“Hei,
kamu anak perempuan. Gak boleh bangun siang!”
Dua
menit.
Selimutku
ditarik.
Uhh.
Baiklah. Habis sudah pagi damaiku. Aku bangun dari tempat tidur sambil masih
tetap memejamkan mata. Berjalan langsung ke padasan belakang rumah untuk
mengambil wudhu.
Dingin.
Embun berkilauan diujung dedaunan. Semburat matahari mulai terlihat ditimur. Aku
cepat-cepat mengambil wudhu lalu shalat subuh. Ma’af Tuhan, aku selalu tak bisa
subuh tepat waktu. Cepat-cepat kulipat mukena. Ada waktu 10 menit sebelum aku
harus mandi dan bersiap-siap masuk kerja. Aku mengambil handphone dan earphone,
lalu bersiap dipematang sawah belakang rumah.
Satu
menit empat puluh delapan detik.
Oh,
Tuhan...
Aku
selalu tak sanggup berkata-kata saat melihat keajaiban-Mu. Siluet matahari yang
bulat sempurna. Warna-warni luar biasa. Awan tipis diatas pegunungan. Merbabu dan
merapi yang terlihat sumbing dipuncaknya.
Bagiku
pagi selalu keajaiban. Pagi selalu menjanjikan kehidupan baru. Pagi adalah
cerita baru. Terimakasih Tuhan atas pagi baru-Mu..
Komentar
Posting Komentar