Dewi
Dewi. Nama yang familiar. Pasaran. Gadis yang tak tahu
bagaimana mengeja perasaan. Pun sampai detik ini.
“kita akan kemana?”lelaki didepannya bertanya.
“terserah mas, aku hanya menemanimu..”Dewi tersenyum.
“Bukan, aku yang menemanimu.. Jadi jangan bilang
terserah..”Adi tersenyum. “Kita kepantai saja yuk..”
“Baiklah..”bisik Dewi lirih.
Adi kembali fokus pada laju motornya. Hening. Tak ada
percakapan. Tak ada senda gurau layaknya dua orang yang sedang kasmaran.
Dewi tak pernah pergi jauh dari rumah sebelumnya. Sekali dua
kali ia memang pergi bersama teman-temannya. Beramai-ramai. Tapi pergi dengan
seorang lelaki, berdua saja, ia belum pernah.
“Pegangan Dewi”Adi menengok kebelakang
Dewi hanya tersenyum.
Tangan Adi mencari-cari. Meraih tangan Dewi, kemudian
menggenggamkannya keperutnya. Dan terus menggenggamnya. Tak dilepaskan.
“fokus, Mas.. Nanti kita berdua jatuh..”
Adi hanya menengok kebelakang dan tersenyum. Tetap
menggengggam tangannya.
Dewi bisa merasakan jantungnya yang berdetak tak karuan. Baru
kali ini tangannya digenggam begitu erat oleh seorang lelaki. Ia menikmati,
merasakan tangan yang kokoh itu. Menatap punggung lelaki didepannya. Merasa
aman. Merasa nyaman. Perlahan tubuhnya yang semula kaku mulai rileks.
Adi yang merasakan tubuh Dewi mulai nyaman melepaskan
genggamannya. Tersenyum.
“ Pacaran itu seperti ini Dewi. Sederhana. Genggaman tangan.
Debaran jantung. Rasakan sensasinya. Nikmati rasanya. Jangan ditolak. Ikuti
saja alurnya..”.
Dewi hanya mengangguk mengerti. Ya sederhana. Amat sederhana.
**
“Ini yang terakhir...”katamu. Aku
memelukmu makin erat, menyembunyikan wajahku yang sembab dengan air mata
dibalik punggungmu, menahan isak.
“Ini yang terakhir... ini kali
terakhir kita bersama seperti ini..”kembali kau berbisik. Jalanan sepi, aku bisa
mendengar bisikanmu, desahan napasmu. Aku bisa merasakanmu.
“Kenapa?”tanyaku. Tanganku
semakin erat mencengkeram kausmu.
.......
“aku akan menikah..”.
Hening.
Aku mencengkeram kausmu lebih
erat lagi. Menunduk makin dalam.
Ini pasti mimpi. Mimpi yang sangat
buruk.
Tapi kenapa aku bisa merasakan
punggungmu yang lebar dipelukanku? Kenapa aku bisa merasakan angin yang
menampar-nampar pipiku? Kenapa aku bisa mendengarkan suara deru motor yang kita
kendarai berdua?
Aku memelukmu lebih erat lagi.
Sesuatu retak didalam tubuhku,
aku bisa merasakannya. Perlahan pecah, kemudian runtuh satu-persatu. Tubuhku
kebas, aku tak bisa merasakan apa-apa.
“Lupakan aku.. Lupakan semuanya”,
bisikmu.
Aku memejamkan mataku. Menarik
napas dalam. Menguatkan diri.
“Bohong..” bisikku.
“Aku tidak bohong.. tidak kali
ini,” ucapmu sambil menengok kearahku.
“Kau selalu bohong padaku,”
bisikku bergetar. Suaraku pecah.
“Aku memang selalu berbohong pada
banyak orang”, ucapmu lirih. “Kenapa kau masih mendengarkanku padahal kau sudah
tau itu?”
Perlukah aku menceramahimu
sekarang? Sanggupkah aku berbicara cinta denganmu saat ini? Apakah itu akan
membuat perbedaan?
“Apa yang kau inginkan?” tanyamu.
Bukankah sudah jelas mas?
Cinta itu sederhana.
Aku ingin meneriakkannya padamu.
Agar kau mengerti. Agar kau paham. Ketika kau jatuh cinta, tak penting lagi kau
jujur atau tidak, karena yang kau percaya hanya yang kau cinta.
Tak bisakah kita terus seperti
ini?
Bermain dengan waktu dan
kenangan?
Jangan menikah. Kau denganku saja. Jangan pergi.

Komentar
Posting Komentar