Pulang

Seringkali aku merasa tak perlu pulang. Kadang kudapati diriku (pura-pura) lupa jalan menuju rumah. Tak jarang aku menutup mataku, hingga dalam banyak waktu, kaki melangkah asal dan kudapati diriku tersesat.
Aku tak ingin warasku meninggalkanku. Ia yang selalu mendorong-dorongku keluar. Menarik dan bahkan menyeretku tanpa ampun. Aku harus beeusaha sekuat mungkin. Hingga lebam dan lecet disekujur tubuhku. Nyeri.
Dalam banyak kesempatan aku berusaha tak mempedulikannya. Meskipun itu sangat sulit. Siapa aku? Hanya setitik debu dikolong langit-Nya. Apapun. Ia yang begitu kuat dan sempurna. Dalam banyak waktu kemenyerahan hampir merenggutku.
Dalam detik-detik terakhir, aku terus berjuang melawannya. Meskipun aku tahu, suatu saat nanti aku tak akan sanggup berjuang sekeras ini. Dan saat kemenyerahan itu merenggutku dalam ketidaksadaran, aku akan memeluknya dengan erat. Dalam senyum bahagia dan kepasrahan.

Aku takut pulang.

Komentar